Aku g tahu apa pilihanku saat ini salah atau benar, Jujur sebagai wanita normal. Aku tak menginginkan keadaan seperti ini
Mencintaimu…adalah Hal yang tak hbisa aku tolak,tak ingin kehilanganmu adalah efek samping dari perasaan ini.
Awalnya semua berjalan normal seperti adanya,kita saling ungkapkan cinta dan rasa rindu serta cemburu, yang saling mengiringi.. semua indah tanpa beban, meski kadang ada setituik pertengkaran.Kau selalu berhasil membuatku merasa berharga,dalam sikapmu yang sungguh bukan tingkah yang manis.. tapi aku menyukainya,dan perlahan tapi pasti itu menjadi candu bagiku.
Mungkin terlalu cepat, aku menjatuhkan hatku padamu,tapi entahlah perasaan ini melebihiperasaan arkeolog yang menemukan fosil dinosaurus atau perasaan bajak laut yang menemukan harta karunnya .Aku tak ingin membuang kesempatan bersamamu.
Dan itu membuatku tak bisa menyadari dengan apa yang aku lakukan bersamamu.. semua meletup – letup dalam hatiku. Perasaan cinta padamu , Rindu ini serasa bagai air terjun yang tak bisa aku bendung.Apakah aku salah melangkah ketika aku serahkan semuanya padanya, hati , rasa bahkan seluruh tubuh ini ? tak ada yang bisa di nilai dari cinta.ini cinta bukan nafsu atau ambisi belaka.tapi semua hamper sama wujudnya.tapi aku bisa membedakan milikku. Getaran dada ketika mendapati tatapanmu yang datar. Sentuhan jarimu yang tak selalu lembut ditanganku, bahkan kata-katamu yang terkadang kurang sopan…
Apa aku gila? Begitu terkadang pertanyaan di kepalaku. Tapi selalu saja terjawab dengan cepat oleh hatiku bahwa ini cinta
20 maret 2010
Ini awal aku mengenalnya, bukan secara personal ini adalah secara professional.saat itu tak ada waktu lagi untuk memilih-milih siapa yang akan aku tekan nomor teleponnya.dan dia terletak pada urutan ketiga, dari data yang ada di tanganku.
Suara yang khas dengan logat umumnya para keturunan china di negeriku ini.sedikit angkuh dan nada sombong…
“ Saya masih meeting ini “
Serunya ketika aku akan mengkonfirmasikan data dirinya sebagai calon nasabah credit cardku.
“ besok saja sekitar jam sebelas siang ok?”
Ok ! akupun setuju akan kesepakatan itu. Saat itu aku tidak begitu berharap dia menepati janjinya itu. Krena itu adalah alas an klise dari orang2 yang ingin melakukan penolakan atas tawaran kami.
…………………………………………………………………………………………….
Hari bergulir menganti posisi matahari dan bulan sesuai dengan jadwal . Seperti biasa aku pulang mengendarai motor matic merah kesayanganku bersama Pak. Bambang, sosok lelaki paru baya yang sudah aku anggap sebagai bapakku. Dia yang telah memeberiku pekerjaan sampingan ini. Agar aku cepat bisa menyelesaikan hutang-hutangku.Sepanjang perjalanan aku dengar samar2 bunyi ponselnya berbunyi.Tapi rupanya dia mengacuhkan begitu saja, mungkin karena ini sudah malam dan kami harus segera sampai di rumah masing – masing. Seperti biasa aku harus mengantar Pak Bambang ke terminal terlebih dahulu.baru kemudian aku pulang ke kos tempatku tinggal di kota ini.
“ FA,, dia telpon lho da berkali2 bagaimana? “ Tanya Pak Bambang padaku, sesampainya kami di salah satu pom bensin untuk mengisi bahan baker motor manisku.
“ Siapa Pak”?
“ itu … Bapak Trunojoyo… customer yang kamu telpon tadi siang”
“ lha.. ini kan da malam, bukannya janjinya besok aku telpon lagi?”
“ wah g tau… trus gimana? Kamu kan kebagian shift siang.trus klo dia tlp ke sini gimana? Ntar di ambil yang lain saying dong !”
“ Waduh iya juga sih…Lha terus gimana mas…?” tanyaku sedikit bingung..
“ Kaasih aja no Hand phone kamu gimana ?”
“ waduh.. gimana ya mas.. emang orangnya pasti baik kan?”
“ sepanjang yang aku tahu baik kok..” jelas pak bambang “ dulu dewi pernah kenlan gitu.. trus katanya orangnya baik.p[rofesional kok”
“ yakin ta ms..” tanyaku ragu2
“ iya…”
“ ya udah kasih aja mas ga. Apa-apa “
“ kita sms aja ya…”
…. Maaf saya masih di jalan. Untuk konfirmasi data bapak silahkan nati hubungi saya di nomor 08785953xxxx karena nomor yang ini adalah nomor pameran. Besok saya dapat jatah shift siang. Jadi baru datang jam 3 sore / Eva Bank xxxx……….
Begitu isi pesan pendek yang aku kirimkan pada bapak. Trunojoyo.Dering teleponpun sudah tidak terdengar lagi malam itu.hingga ahir aku merebahkan badanku pada ranjang mini yang nyaman yang membuai dalam tidur nyenyakku…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar